Terjemahan Dan Makna Surat 19 At-Tin (Buah Tin) The Fig Edisi Bilingual - Jannah Firdaus Mediapro

Terjemahan Dan Makna Surat 19 At-Tin (Buah Tin) The Fig Edisi Bilingual

Par Jannah Firdaus Mediapro

  • Date de sortie: 2022-01-01
  • Genre: Islam

Description

Terjemahan Dan Makna Surat 19 At-Tin (Buah Tin) The Fig Edisi Bilingual Dalam Bahasa Indonesia Serta Bahasa Inggris Dari Kitab Suci Al-Quran.

Surah At-Tin (Arab: التِّينِ, "Tin") adalah surah ke-95 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah. Surah ini diturunkan setelah surah Al-Buruj. Nama At-Tin diambil dari kata At-Tin yang terdapat pada ayat pertama surah ini yang artinya buah Tin.

Surah At-Tin merupakan salah satu surah Makkiyyah, yaitu surah yang diturunkan di kota Mekkah atau sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Surah ini terdiri dari delapan ayat dan berada pada Juz 30 dan surah ke-95 dalam susunan mushaf Al Qur'an. Surah ini merupakan wahyu ke-28 yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Ia diturunkan sebelum surah Al-Buruj dan setelah Surah Quraisy. Tema pokok surah At-Tin adalah tentang manusia dan keniscayaan pembalasan dan ganjaran yang akan diterima di akhirat nanti.

At-Tīn (Arabic: التين, "The Fig, The Figtree") is the ninety-fifth surah of the Qur'an, with 8 ayat or verses. This sura opens by mentioning the fig (the sura’s namesake), the olive, Mount Sinai, and "this city secured" (generally considered to be Mecca). The cosmology of the Qur'an states that God made mankind out of clay. This sura suggests not only this, but that the mould which God used for man was "the best possible". The lowness of the clay has set humanity apart from God; because clay is heavier and more solid than fire, from which the Jinn were made, and light, from which the angels came.

However, not all humanity is condemned to absolute removal from God's company. The passage continues that "those who believe and do what is right will have a reward that will never be cut off". A human life, when perfected, will thus rise above its modest origins, giving the human condition a unique possibility for glory on the Last Day. God's judgment, for Heaven or Hell, cannot be contradicted, for "Is not God the best of judges?"

Commentaires